Rabu, 05 Desember 2012

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA TANAM PADAT





LAPORAN
PEMBUATAN MEDIA TANAM PADAT





Rezki Heru Aditya
NIM : 111510501122







JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011



BAB 1. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pertanian merupakan sumber pendapatan bagi sebagian besar rakyat Indonesia, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencarian sebagai petani. Indonesia merupakan negara agraris yang terkenal dengan kekayaan plasma nutfah alamnya serta terkenal dengan kesuburannya karena terletak pada iklim tropis dimana 30% merupakan dataran yang subur dan siap ditanami berbagai macam tanaman. Kondisi iklim dan cuaca serta faktor klimatologis yang baik memungkinkan faktor pendukung untuk dilakukannya budidaya berbagai macam tanaman baik tanaman pangan, palawija, buah-buahan maupun sayuuran. Pembudidayaan berbagai jenis sayuran merupakan salah satu pilihan yang cocok dibudidayakan di Indonesia.
 Pertanian tidak lepas dari lahan pertanian atau media tanam. Media tanam yang baik adalah media yang dapat menumbuhkan tanaman dengan baik serta memiliki hasil dan produktifitas tinggi. Pada dasarnya media tanam merupakan tempat dimana tanaman tumbuh, media tanam merupakan komponen dimana tanaman dapat memperoleh kebutuhan untuk siklus hidupnya, misal unsur hara, air, dan unsur-unsur lain yang diperlukan oleh tanaman.
Tanaman yang memiliki prospek baik untuk dibudidayakan di daerah Indonesia antara lain adalah sawi, karena kondisi iklim yang cocok serta permintaan pasar yang tinggi. Sawi merupakan tanaman yang bukan berasal dari Indonesia namun sawi memiliki iklim yang cocok untuk dibudidayakan di Indonesia. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 m dari permukaan laut.  Tanaman sawi pada umumnya bisa di budidayakan secara konvensional dan secara hidroponik, tetapi kebanyakan tanaman sawi di budidayakan secara konvensional daripada secara hidroponik karena budidaya secara hidroponik lebih banyak memerlukan lebih banyak biaya.
Dalam budidaya tanaman sawi, media tanam merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan tanaman. Media tanam tanam yang baik harus memiliki formulasi dan komposisi yang sesuai agar media tersebut memiliki sifat fisik, kimia yang baik. Rekayasa media tanam atau enginering media tanam harus menyesuaikan dengan umur dan kebutuhan tanaman sawi tersebut. Misal dalam pembibitan tanaman sawi diperlukan media yang memiliki sifat yang gembur dimana akar muda dari tanaman sawi tersebut dapat berkembang sehingga menghasilkan bibit yang siap untuk dipindahkan, dan dapat berprioduksi optimal ketika ditanam.
Rekayasa media tanam adalah usaha untuk memperoleh media yang baik dengan cara membuat komposisi media dengan mencampur beberapa macam media berbeda dengan sifat-sifat tertentu agar diperoleh media dengan sifat kimia, fisik dan biologi yang lebih baik. Enginering media tanam atau rekayasa media taman dilakukan dengan mengemburkan dan memperbaiki sifat kimia dan fisik tanaman serta menambahkan mikroorganisme untuk memperbaiki sifat biologi media. Pada pertanian dilahan atau konvensional penanaman sawi diawali dengan pembuatan bedengan yaitu dengan penggemburan tanah dan pembuatan draenasi untuk mengatur pengairan pada system budidaya sawi. Setelash proses persipan lahan tersebut media hasil rekayasa yang dimasukkan dalam polybag diletakkan pada bedengan agar memperoleh cahaya dan pengairan yang baik dan jika tidak menggunakan polibag maka rekayasa media tanam dapat dilakukan dengan cara menambahkan berbagai macam media maupun pupuk ke atas bedengan dengan cara menambahkan sesuai kebutuhan tanaman lalu mencampur media tersebut dan meratakannya diatas bedengan, agar memperoleh media tanam yang lebih baik.
Pada budidaya tanaman sawi pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan lahan, pembibitan dapat dilakukan dengan cara menyebar atau cabutan maupun bibit yang sudah dalam bentuk sisis atau polybag kecil. Bibit sawi yang disiapkan dalam bentuk sosis lebih lebih efisien karena lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya.
Penambahan pupuk pada media dalam dudidaya  tanaman sawi perlu dilakukan untuk memasok kebutuhan unsur hara essensial yang menunjang pertumbuhan tanaman. Selain menambah produktifitas, pemupukan juga dapat mendukung pertumbuhan akar, daun serta batang. Salah satu nutrisi atau unsur hara yang dibutuhkan tanaman adalah unsur N, P, dan K. Tetapi dalam penambahan pemupukan ini perlu diperhatikan juga dosis yang diberikan kedalam tanah agar tidak meracuni tanaman.

1.2    Tujuan
            Tujuan dilaksankannya praktikum pembuatan Media Tanam Padat atau rekayasa media tanam ini adalah untuk mendapatkan formulasi dan komposisi media tanaman yang ideal untuk tanaman tertentu. Serta membuat formulasi media yang cocok untuk tanaman sawi.

 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
            Sawi (Brassica juncea L.) merupakan jenis tanaman sayuran daun yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah kubis dan brokoli. Selain itu, tanaman sawi juga mengandung mineral, vitamin, protein dan kalori. Sawim dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah yaitu 3-1.200 m dpl, namun tinggi tempat yang optimal adalah 100-500 m dpl. Sawi banyak dibudidayakan para petani di dataran rendah karena akan sedikit lebih menguntungkan (Haryanto dkk, 2008).
            Pada tanaman sawi pembibitan dilakukan pada rumah bibit atau naungan dengan memperhatikan kondisi cuaca, media semai dibuat 2 minggu sebelum tebar benih jika tanpa menggunakan sosis. Naungan dapat menggunakan atap plastic polieten dan tiang bambu atau atap juga bisa menggunakan daun kelapa yang dianyam. Lebar bedengan biasanya 1,3 m sedangkan panjang bedengan menyesuaikan dengan kebutuhan (Susila, 2006).
            Media tumbuh tanaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman untuk mendapatakan hasil optimal. Media tumbuh yang baik diantaranya memilikinsifat fisik yang baik, gembur dan mempunyai kemampuan menahan air lama karena kondisi fisik tanah sangat penting untuk berlangsungnya kehidupan tanaman mulai dari bibit hingga dewasa (Fatimah dkk, 2008).
            Pada budidaya tanaman, khususnya sawi, baik pembibitan maupun penanaman dilahan media tanam merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Media Tumbuh di lahan atau tanah adalah tempat tumbuh tumbuhan di atas permukaan bumi. Di dalam tanah terdapat air, udara dan berbagai hara tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air yang beada dalam tanah sangat pentig untuk proses kimia, biologi dan fisika tanah. Sebagain air tanah terdapat dalam bentuk lapisan tipis yang dinamakan air kapiler. Air kapiler membentuk larutan tanah yang berfungsi seba-gai sumber unsur hata tumbuhan. Udara dalam tanah beasal dari udara atmosfir yang mengandung sekitar 21% Okigen, 78% nitrogen, dan 1% CO2 beserta gas lainnya. Semua gas tersebar dalam poripori tanah atau terlarut dalam tanah. Akar dan organisme tanah memerlukan oksigen untuk proses pernafasan (respirasi). Oksigen dalam tanah digunakan oleh se-mua mahluk hidup dalam tanah, baik organisme maupun mikroor-ganisme, sehingga konsentrasi oksigen dalam tanah akan lebih rendah dibandingakan dengan oksigen di atas permukaan tanah (atmosfir). Di dalam tanah terdapat nitrogen, fosfor, belerang, kalium, kalsium dan magnesium dalam jumlah yang relative banyak (unsur hara makro) dan terdapat sedikit besi, mangan, boron, seng dan tembaga (unsur hara mikro). Beberapa tumbuhan membutuhkan beberapa unsur lain seperti natrium, molibdenum, klor, flour, iod, silikon, strontium. Hara esensial (penting) sebagian besar terdapat dalam tanah. Nitogen merupakan unsur hra yang sangt penting bagi tumbuhan. Nitrogen merupakan ba-han baku untuk penyusunan protein dan asam amino tumbuhan. Nitoden diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan amonium. Fosfor dibentuk pada tanah mineral dan berbagai senyawa organik. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk ion fospat. Belerang ditemukan dalam tanah mineral. Belerang diserap oleh tumbuhan dalam bentuk sulfat. Kalium, kalsium dan magnesium merupakan logam. Pada saat ketiga logam tersebut di atas bereksi dengan air maka akan dibebaskan ion-ion kalium, kalsium dan magnesium (Nurwandani, 2008).
            Untuk memperoleh media yang baik salah satu upayanya adalah melalui pemupukan. Pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan ke tanaman dengan maksud menambah unsur hara yang diperlukan tanaman. Terdapat tiga aspek penting yang menentukan efisiensi dan efektivitas pemupukan yaitu dosis pupuk, waktu dan teknik aplikasi dan jenis pupuk. Pupuk selain dapat diberikan melalui tanah juga dapat diberikan melalui daun tanaman. Proses penyerapan hara yang diberikan lewat daun lebih cepat jika dibandingkan dengan pemupukan melalui tanah. Hilangnya pupuk karena tercuci, penguapan dan terfiksasi akan lebih kecil, karena pupuk dapat langsung diserap tanaman. (Sutejo, 1995). Selain itu, Sujatmika (1988) mengatakan bahwa keuntungan pemakaian pupuk daun adalah tanaman lebih cepat mengeluarkan tunas serta tanaman tidak mudah rusak dan pemupukan melalui daun pada musim kering lebih efisien, karena pupuk yang diberikan melalui daun sudah dalam keadaan siap diabsorpsi, sehingga langsung diserap oleh daun tanaman. Selain itu, pemupukan lewat daun tidak dipengaruhi oleh kondisi pH dan air tanah. Satu hal lagi yang menjadi keuntungan pupuk daun ialah adanya unsur-unsur mikro pada pupuk daun ( Nusifera, 2001).
            Salah satu pupuk yang dianjurkan adalah pupuk organic. Penggunaan pupuk organic dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia. Baha organic merupakan alternative untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan efisiensi dari penggunaan pupuk kimia. Penggunaan bahan organic dapat membantu kehidupan mikroorganisme tanah. Pengomposan atau pemberian bahan organic pada media tanam sawi bertujuan untuk memperbaiki sifat kimia, fisik dan biologi pada tanah (Setiawan, 2009).
Selain faktor kimia diatas dalam media tanam sifat fisik juga merupakan hal yang penting, misalnya agregat tanah. Peningkatan agregat tanah pada lahan pertanian yang didominasi oleh partikel pasir pada lahan kering merupakan hal penting untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan ketersediaan unsur hara dan air bagi tanaman salah satunya dengan penambahan partikel liat dan bahan orgaik (Djajadi, 2010).
            Nilai pertanian dari suatu pupuk tidak menentu, karena bahan ini mudah berubah. Oleh karenanya macam dan jumlah pupuk yang diberikan harus dapat mengikuti berbagai macam perubahan karena, Tanah dan pupuk terjadi reaksi kimia dan biologis yang mempengaruhi mutu pupuk, serta iklim yang dapat mempengaruhi tanah, tanaman dan pupuk. Perlu diperhatikan. Bila ada kelebihan
atau kekurangan air, efisien penuh dari pemupukan sukar diharapkan. Sebetulnya, setiap faktor yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman akan menurunkan efensiansi pemupukan, dan akibatnya respons dari tanaman terhadap pemupukan
juga tergangu. Jika faktor-faktor lain tidak merupakan pembatas, maka jumlah pupuk dapat ditentukan dengan tingkat kepastian tertentu. Meskipun keadaannnya sangat kompleks, petunjuk-petunjuk tertentu dapat diikuti dalam menentukan macam atau jumlah pupuk yang harus di berikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah:
1.      Macam tanaman yang akan diusahakan: nilai ekonomi tanaman, kemampuan tanaman menyerap hara
2.      Keadaan kimia tanahsehubungan dengan jumlah hara tersedia
3.      Keadaan fisik tanah sehubungan dengan kadar air dan aerasi media (Hanum, 2008).



BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum acara 1 teknik media tanam dengan judul “pembuatan media tanam padat” dilaksanakan mulai tanggal 8 maret 2012 sampai rentang waktu 28 hari, yakni berakhir pada tanggal 5 april 2012, dan dilaksanakan di lahan agroteknopark universitas jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.      Tanah
2.      Kompos
3.      Polybag
4.      Pasir
3.2.2 Alat
1.      Timba plastik
2.      Ayakan 2 mm
3.      Karung plastik
4.      Centong
5.      Gembor
3.3 Cara Kerja
1.      Mengambil contoh tanah
2.      Mengeringanginkan pada tempat yang telah disediakan
3.      Mengayak dengan saringan lolos 2 mm
4.      Menyiapkan plastik untuk alas hasil ayakan tanah dan kantong plastik sebagai tempat hasil ayakan
5.      Menyiapkan pasir, tanah, kompos, sebagai campuran media
6.      Mencampur bahan tersebut sesuai dengan  petunjuk, memasukkan dalam pot plastik, menyiram sampai kapasitas lapang
7.      Menanam biji, ata bibit yang tlah disiapkan
8.      Menyiram setiap hari (bilamana perlu)
9.      Mengamati dan menyiram dengan air bilamana setiap hari, menjaga dari gangguan hama dan penyakit
10.  Setelah tanaman berumur 8 minggu, mengamati tinggi tanamannya dan memanennya
11.  Menimbang brangkasan masing-masing perlakuan ditimbang di labolatorium
12.  Semua hasil yang telah didapatkan, membuat laporan untuk diseminarkan

BAB.4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel data hasil pengamatan sawi  golongan rabu
No
Perlakuan
Kapasitas lapang (kg)
Dosis air (ml)
Tinggi tanaman (cm)
Jumlah daun (helai)
Berat basah tanaman (gram)
1
KNO
2,3
136,9 ml
8,18 cm
6,4 helai
3,5 g
KNP
2,5
221,4 ml
5,9 cm
4 helai
8,6 g
SNO
2,4
6,25 ml
7,04 cm
5,2 helai
6,1 g
SNP
2,55
92,18 ml
7,42 cm
4,6 helai
32,3 g
BNO
2,55
120,62 ml
5,44 cm
5,2 helai
3,7 g
BNP
2,4
51,09 ml
5,48 cm
3,8 helai
2,0 g
2
KNO
2,5
131 ml
7,2 cm
5 helai
8 g
KNP
2,4
157 ml
4 cm (M)
3 helai (M)
M
SNO
2,4
20 ml
5 cm (M)
4 helai (M)
M
SNP
2,4
17 ml
4,2 cm (M)
3 helai (M)
M
BNO
2,4
38 ml
8 cm
6 helai
16 g
BNP
2,4
50 ml
2,5 cm (M)
3 helai (M)
M
3
KNO
2,1
8,5 ml
6,3 cm
4,3 helai
7 g
KNP
2,25
14,2 ml
5,1 cm
3,6 helai
4 g
SNO
2,4
18,5 ml
5,5 cm
4 helai
4 g
SNP
2,4
10 ml
5,08 cm
4,5 helai
3 g
BNO
2,3
37,4 ml
6,83 cm
4,6 helai
13 g
BNP
2,3
82 ml
5,7  cm
4,1 helai
10 g
4
KNO
2,3
420 ml
3,5cm
4 helai
16 g
KNP
2,2
470 ml
4,5 cm
4 helai
8 g
SNO
2,4
250 ml
4 cm
3 helai(M)
M
SNP
2,4
120 ml
3,7 cm
3 helai
15 g
BNO
2,35
250 ml
3 cm
3 helai
20 g
BNP
2,4
120 ml
4,5cm
3 helai
58 g
5
KNO
2,5
137,1 ml
3,9 cm (M)
3 helai (M)
10,5 g
KNP
2,5
202.8 ml
3,5 cm (M)
3 helai (M)
96 g
SNO
2,5
51,4 ml
2 cm (M)
3 helai (M)
106 g
SNP
2,4
54,2 ml
3,6 cm (M)
3 helai (M)
111 g
BNO
2,5
148,5 ml
3,7 cm (M)
3 helai (M)
80 g
BNP
2,5
68,5 ml
3,2 cm (M)
3 helai (M)
100 g
6
KNO
2,3
210 ml
4 cm (M)
4 helai (M)
2 gram
KNP
2,5
420 ml
3cm (M)
3 helai (M)
M
SNO
2,5
40 ml
3 cm (M)
3 helai (M)
2 gram
SNP
2,4
10 ml
4 cm (M)
4 helai (M)
M
BNO
2,4
50 ml
3 cm (M)
3 helai (M)
5 gram
BNP
2,4
200 ml
3 cm (M)
3 helai (M)
75 gram

Tabel rata-rata penambahan air tiap perlakuan
KNO
KNP
SNO
SNP
BNO
BNP
173.9167
247.5667
64.35833
50.56333
107.42
95.265

Tabel rata-rata berat basah hasil panen
KNO
KNP
SNO
SNP
BNO
BNP
7.833333
7.833333
29.525
15.06389
22.95
49



4.2  Pembahasan
            Dari praktikum rekayasa media tanam yang dilaksanakan proses pengambilan tanah untuk media tanam diawali dengan memilih area yang memiliki tanah yang baik dan bisa diambil untuk media tanam terlebih dahulu. Penganbilan tanah dilikukan di lahan agroteknopark Universitas Jember dengan cara melakukan pembersihan terlebih dahulu, yaitu sebelum biambil tanahnya permukaan tanah dibersihkan dari gulma dan benda-benda yang tidak berguna, misalnya batu, dll. Setelah proses pembersihan selesai pengambilan tanah dilakukan dengan mencangkul tanah agar tanah menjadi gembur sebelum dimasukkan kedalam wadah, setelah proses tersebut selesai maka dilanjutkan dengan memasukkan tanah yang sudah gembur kedalam wadah, pada praktikum ini wadah yang digunakan adalah sak atau karung. Setelah tanah berada didalam wadah atau sak, tanah tersebut dibawa ketempat pengeringan. Proses pengeringan dilakukan dengan prinsip kering angin, yaitu dengan cara mengeringkan dengan angina tanpa menggunakan sinar matahari, biasanya dilakukan didalam ruangan dan bisa menggunakan bantuan kipas angina. Proses ini berlangsung selama 7 hari atau sesuai jenis dan kondisi tanah serta faktor eksternal seperti kondisi tempat dan alat bantu yang digunakan.
            Pencampuran media atau pengkomposisian media dilakukan dengan cara mencampur media sesuai takaran, proses penakaran yang digunakan bisa dengan cara menimbang sesuai formulasi atau dengan menggunakan alat penakar misal, timba, pot, dll. Setelah proses penakaran dilakukan, pencampuran dilakukan dengan cara mencampur media tersebut dengan mixer atau dengan cara manual yaitu dengan tangan sampai merata. Tanah yang digunakan adalah tanah kering angin yang lolos ayakan 2 mm. Perbandingan komposisi yang digunakan yaitu ;
No
Perlakuan
Komposisi
1
KN0
2 kg tanah
2
KNP
2 kg tanah + 5 gr pupuk
3
SN0
2 kg tanah + 100 gr sekam
4
SNP
2 kg tanah + 100 gr sekam + 5 gr pupuk
5
KN0
2 kg tanah + 100 gr bahan organik
6
KNP
2 kg tanah + 100 gr bahan organic + 5 gr pupuk
            Pembuatan media menjadi kapasitas lapang dilakukan dengan cara menambahkan air diiringi dengan pengadukan media atau mixer sampai kondisi media bisa dikatakan kapasiatas lapang, yaitu lembab namun tidak ada air tergenang. Kapasitas penambahan air untuk mencapai kapasitas lapang tergantung dari jenis media, jumlah media dan kondisi media. Pada praktikum yang dilakukan penambahan air untuk mencapai kapasitas rata-rata ± 400 mililiter.
            Berdasarkan hasil pengamatan setiap perlakuan memiliki perlakuan yang berbeda baik kapasitas lapang maupun dosis pemberian air. Dari hasil praktikum dapat diperoleh data pemberian air setiap komposisi media sebagai berikut ;
Grafik pemberian air tiap perlakuan

Grafi rata-rata pemberian air tiap perlakuan
            Berdasarkan grafik diatas dapat diperoleh hasil bahwa komposisi media yang membutuhkan air paling banyak adalah KNP yaitu dengan rata-rata 147,6 ml sedangkan yang terkecil yaitu SNP dengan rata-rata 50, 6 ml, sedangkan untuk KNO, SNO, BNO dan  BNP rata-ratanya secar berurutan adalah 174,  64,4 , 107,4 dan 95,3. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan SNO dan SNP dalam menyimpan air lebih besar dan semakin kecil pada BNP dan BNO serta yang memiliki kapasitas penyimpanan air yang terkecil yaitu KNO dan KNP. Hal tersebut dikarenakan pada media arang sekan + tanah memiliki pori lebih besar sehingga ruang penyimpanan air lebih besar, dan media ini tergolong media yang paling lama kering serta memiliki porositas dan aerasi yang baik, sehingga air yang diberikan dapat diserap dengan optimal oleh media tersebut untuk menyuplai kebutuhan tanaman. Sedangkan pada bahan organic + tanah, memiliki kebutuhan air yang lebih banyak hal tersebut dikarenakan media tersebut lebih didominasi oleh tanah, padahal tanah yang digunakan tergolong memiliki kelekatan tinggi, sehingga pori lebih kecil dan lebih sulit meresapkan air serta memiliki aerasi lebih buruk. Sedangkan untuk media yang membutuhkan air paling banyak adalah tanah saja, hal tersebut dikarenakan media tanah memiliki kelekatan lebih tinggi karena tanah yang digunakan sedikit bersifat lempung dan memiliki kelekatan yang tinggi sehingga air lebih sulit masuk dan sehingga sebagian air ada yang menguap dan tumpah. Rendahnya daya resap air tersebut dikarenakan tanah memiliki pori lebih kecil jika bibandingkan sekam dan bahan organik.
            Dari data hasil praktikum yang dilakukan, pada proses pemanenan hiperoleh hasil dari produktifitas tiap perlakuan sebagai berikut ;
Grafik berat basah hasil pemanenan dari masing- masing perlakuan

Grafi rata-rata berat basah tiap perlakuan

            Dari data diatas dapat diperoleh hasil bahwa media yang memiliki produktifitas terbaik adalah BNP yaitu dengan rata-rata 49 gram lalu semakin kecil BNO 22.95,  SNO 29,52, SNP 15,06, serta  7,8 untuk KNO dan KNP. Hal tersebut dikarenakan pada BNP memiliki mikroorganisme yang lebih baik karena sifat bahan organic yang banyak mengandung mikroorganisme serta ditambah dengan pupuk yang membantu asupan unsur hara esensial bagi tanaman, serta menurun pada BNO karena tidak ditanbahkan asupan pupuk. Pada SNP dan SNO lebih kecil dari BNO namun lebih baik dari KNO dan KNP karena media ini memiliki mikroorganisme lebih sedikit, namun lebih baik dari KNO maupun KNP karena sekam memiliki aerasi serta penyerapan unsur hara dan air lebih baik dari KNO dan KNP. Sedangkan pada KNO dan KNP memiliki hasil terburuk karena media sulit ditembus akar serta memiliki aerasi yang buruk dan lebih sulit meloloskan air maupun pupk yang biberikan.
            Dalam pembuatan media tanam maupun budidaya tanaman sawi ada beberapa hal yang penting diantaranya, dalam pembuatan media harus dipilih media yeng steril yaitu, bebas dari gulma maupun, pencampuran media yaitu, komposisi yang digunakan harus sesuai takaran serta pemberian aia harus sesuai kapasitas lapang. Sedangkan dalam budidaya tanaman sawi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan yaitu perawatan, perawatan tersebut terdiri dari ;
a.    Penyiraman, penyiraman harus sesuai dengan kebutuhan media yaitu kapasitas lapang. Penambahan air yang berlebihan akan berdampak pada banjirnya media tanam, sedangkan kekurangan air dapat menyebabkan tanaman menjadi layu fusarium.
b.   Pengendalian OPT, pengendalian OPT diantaranya dilakukan dengan cara membersihkan media dari gulma agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman budidaya. Sendankan untuk hama dan penyakit dilalukan dengan cara menyesuaikan dengan kondisi gejala (pada penyakit) atau jenis hama.
c.    Perawatan media, dilakukan dengan cara menjaga agar media tetap gembur, jika media mulai padat maka media digemburkan dengan cara mencongkel tanah dengan catatan tidak mengganggu dan tidak merusak tanaman.
d.   Pemupukan, proses pemupukan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman karena kurangnya pupuk dapat menyebabkan tanaman menjadi kering dan mati karena tidak adanya unsuh hara yang dibutuhkan tanaman. Gejala tanaman kekurangan pupuk misalnya pupuk N adalah daun menjadi menguning dimulai dari dahan daun dan akhirnya kering sehingga mati. Sedangkan untuk pemberian pupuk yang berlebihan selain boros sehingga menambah biaya produksi, pemberian pupuk berlebihan tersebut juga dapat berdampak buruk bagi tanaman karena daun tanaman dapat menjadi kering dan mati. Serta pemberian pupuk kimia secara berlebihan juga dapat memberikan efek buruk bagi tanah, karena pupuk kimia memiliki residu yang dapat membunuh mikroorganisme dalam tanah.








BAB.5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
            Dari praktikum yang dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain yaitu ;
1.      Media yang memiliki produktifitas terbaik adalah bahan organic+tanah, namun akan semakin baik jika ditambah pupuk, lalu semakin kecil pada sekam+tanah dan yang terburuk pada tanah saja.
2.      Dalam budidaya tanaman selain media perawatan merupakan salah satu hal penting dalam menentukan keberhasilan, misal penyiraman, pemupukan dan pengendalian gulma.
3.      Media sekam+tanah memiliki aerasi dan porsitas baik sehingga memiliki kemampuan menahan air lebih baik, sehingga dosis air lebih seidkit.
4.      Media tanah memiliki produktifitas terburuk, serta memerlukan air lebih banyak.

5.2  Saran
            Agar diperoleh data yang akurat sebaiknya pemberian air atau penyiraman dilakukan dengan hati-hati agar tidak lebih atau kurang dari ketentuan kapasitas lapang. Sebaiknya dalam pembuatan media menjadi kapasitas lapang dilakukan dengan hati-hati agar tidak banjir.





DAFTAR PUSTAKA
Djajadi, Dkk. 2010. Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Sifat Fisik, Kimia Dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri Vol. 16 No. 2, Juni 2010 : 64 – 69.

Fatimah, Siti, Dkk. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata, Nees). Embriyo Vol.5 No.2.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta : Depdiknas.

Haryanto, Eko, Dkk. 2008. Sawi Dan Selada. Jakarta : Penebar Swadaya.

Nurwandani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. Jakarta : Depdiknas.

Nusifera, Sosiawan. 2001. Respon Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.) Terhadap Pupuk Daun Nutra-Phos N Dengan Konsentrasi Bervariasi. Jurnal Agronomi 8 (1) : 27-29.

Setiawan, Eko. 2009. Pengaruh Empat Macam Pupuk Organic Terhadap Pertumbuhan Sawi(Brassica Juncea L).  Embryo Vol 6. No.1.

Susila, Anas, D. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Bogor : IPB.